Tuesday, October 25, 2016

Adab Dan Hukum Di Sosial Media (Bagian 02)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Muharram 1438H / 25 Oktober 2016M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Adab Dan Hukum Di Sosial Media (Bagian 02)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-NZ-SosMed-02
-----------------------------------

Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Bapak-bapak, ibu-ibu, rekan-rekan ikhwan dan akhwat yang saya muliakan.

Kita akan berbicara tentang adab dan hukum yang berkaitan dengan sosial media.

Salah satu ulama besar pada hari ini, Syaikh Shalih Alu Syaikh, ketika beliau menjelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat, beliau menjelaskan bahwa tidak semua tanda-tanda hari kiamat itu negatif.

OK, Dajjal negatif, Yajuj Majuj negatif, durhaka kepada orang tua negatif, banyaknya kasus pembunuhan negatif.

Tapi tidak semuanya negatif dan salah satunya adalah netral yaitu fenomena yang sedang kita alami pada hari ini.

Sebagaimana definisinya adalah media. Sebagaimana pisau adalah media atau alat untuk memotong maka sosmed adalah media yang bisa membawa kita ke surga atau membawa kita ke neraka.

Yang bisa kita gunakan untuk mendapat nikmat kubur atau kita gunakan untuk mendapatkan adzab kubur.

Sosmed adalah pedang bermata dua.

Oleh karena itu, seorang muslim yang hidupnya saat ini tidak bisa dipisahkan dengan media sosial, dia harus tahu adab dan hukum yang berkaitan dengan media yang satu ini.

Kita akan bahas dengan penuh keterbatasan. Namun semoga yang sedikit ini diberkahi Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Sebelum kita menggunakan sosmed, sebelum kita gunakan media-media tersebut, sebelum kita berinteraksi, sebelum kita memainkan gadget kita:

(1) Point yang pertama: BAGI WAKTU DENGAN PROPORSIONAL

Hendaknya kita pahami bahwa Islam menuntut kita membagi waktu dengan proporsional.

Menggunakan gadget atau menggunakan sosmed itu boleh selama postif tapi kita harus tahu waktunya, karena kita dituntut untuk membagi waktu secara proporsional.

Nabi shālallahu 'alayhi wassalam menyatakan:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.

_"Sesungguhnya Rābbmu punya hak (yang harus engkau tunaikan), dan dirimu itu punya hak, dan keluargamu (istri kita, anak-anak kita, atau yang ibu-ibu, suaminya, anaknya) itu punya hak. Maka berikanlah setiap orang dan semua pihak, haknya masing-masing."_

(HR Bukhari nomor 1832 versi Fathul Bari nomor 1968)

Ini salah satu penyakit sosmed yang paling parah, yaitu waktu kita habis.

Suami pulang, istri masih asyik saja dengan facebooknya atau gamenya.

Nabi mengatakan bahwa Rābb kita punya hak.

Silahkan berteman di jejaring sosial, tapi ingat Allāh punya hak, istri punya hak, suami punya hak, anak-anak punya hak, semua punya hak yang harus kita tunaikan.

Tahu tidak, hadits Bukhari ini, Nabi sampaikan kepada siapa?

Pertama kali nabi sampaikan hadits itu kepada siapa sih ?

Kepada Abu Darda, masya Allah.

Ada apa dengan Abu Darda? Apa beliau punya facebook?

Beliau over dalam beribadah. Istrinya tidak pernah disentuh. Siang puasa, malam qiyamul lail dari ba'da isya sampai menjelang subuh.

Akhirnya dinasehati sama Salman. Abu Darda tidak terima, lapor kepada Nabi shālallahu 'alayhi wassalam. Lalu Nabi mengatakan:

صَدَقَ سَلْمَانُ

_"Yang benar itu Salman."_

Lalu Nabi mengatakan hadits di atas:

"Sesungguhnya Rābbmu punya hak (wahai Abu Darda)."

==> Terlalu bersemangat beribadah itu bagus tapi jangan lupa, tubuhmu itu juga punya hak. Harus tidur. Tidak bisa qiyamul lail dari ba'da isya sampai subuh setiap hari, itu tidak bisa, harus tidur.

"Dan istrimu, anak-anak mu punya hak."

==> Punya hak disapa, dibelai, diajak bicara, bercanda, main sama anak, itu punya hak. Jangan hanya shālat terus.

Maka berikanlah setiap pihak hak nya masing-masing.

==> Itu yang dikritik, yang keranjingan shālat lail.

Bagaimana kalau Nabi melihat bagaimana kita berinteraksi dengan gadget kita?

Saya ingin tanya, kalau kita evaluasi diri yang paling sering kita pegang gadget kita atau tangan istri kita?

Jangan-jangan nikah bertahun-tahun tidak pernah gandengan tangan ini.

Itu baru istri loh. Kita belum bicara mushaf, kita belum bilang kitab shāhih Bukhari, kita belum bicara kita shāhih Muslim, kita belum bicara kitabul tauhid.

Prioritas orang lebih asyik dengan gadgetnya.

Mana yang lebih sering kita pegang? Gadget kita atau kita pegang tangan mungil anak kita?

Itu semua punya hak.

Kalau shālat saja tidak bisa dijadikan alat untuk menjustifikasi seseorang yang tidak menunaikan hak keluarganya. Bagaimana sosmed yang ada ditengah-tengah kita sekarang?

Coba kita renungkan, kita tuh ngapain sih hidup ini?

Apakah kita pegang mushaf seperti kita pegang gadget kita?

Pembagian waktu itu penting. Karena kita akan ditanya oleh Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Silahkan bersosial dengan media-media yang ada. Tapi jangan lupakan shālat, jangan lupakan menuntut ilmu. Waktu ini penting.

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك

_"Waktu itu ibarat pedang. Kalau anda tidak tebas dia, dia akan tebas anda."_

Kita akan ditanya oleh Allāh. Tadi haditsnya sudah dibacakan. Kaki ini tidak akan beranjak dari sisi Allāh sampai kita ditanya tempat perkara, waktu kita, kita habiskan untuk apa.

Lalu dalam riwayat masa muda kita, kita habiskan untuk apa.

Ini kan pengulangan dan penekanan, karena masa muda bagian dari waktu hidup kita. Itu ditanya sama Allāh.

Dan istri kita akan nuntut pada hari kiamat, suami kita akan nuntut pada hari kiamat. Anak-anak ketika kurang perhatian, papanya sibuk dengan gadgetnya, mamanya sibuk dengan gadgetnya, dia akan tuntut kita pada hari kiamat kelak.

Maka gunakan semestinya. Silakan punya group, tapi jangan terlalu banyak aktif di group, dan juga tidak jelas. Ketika dicek cuma ha ha hi hi. Untuk apa ?

Padahal Nabi shālallahu 'alayhi wassalam mengatakan:

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

_"Jangan terlalu banyak ketawa, kalau banyak ketawa itu akan mematikan hati."_

(HR Tirmidzi 2305)

Nabi, kan mengatakan dalam hadits Tirmidzi nomor 2317:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ اَلْمَرْءِ, تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

_"Salah satu tanda baiknya Islam seseorang (salah satu ciri kwalitas agama kita itu bagus), kita meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat."_

Jadi, kalau obrolan di group sudah tidak jelas apalagi cendrung haram, cut, selesai.

Kalau cuman kasih jempol doang, buat apa habis-habisin waktu. Jangan habiskan waktu.

Salah satu tanda kebaikan seseorang dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya atau bagi dunianya.

Prioritas orang habis satu jam, dua jam hanya untuk di group satu, di group dua, di group tiga, di group empat. Boleh, tapi dilihat proporsional tidak.

Hasan Al Basri pernah berkata:

من علامة إعراض الله تعالى ، عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه

_"Salah satu tanda Allāh berpaling dari seseorang (Allāh berpaling dari kita), Allāh akan biarkan kita sibuk ngurusin hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kita."_

Jadi, kalau pekan ini kita evaluasi, waktu kita kebanyakan yang tidak bermanfaat dan mayoritas habis buat sosmed, maka itu menunjukan Allāh berpaling dari kita.

Kita ditinggalkan oleh Allāh, kita tidak diberikan hidayah oleh Allāh, kita tidak diberikan taufik oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Allāh biarkan dia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
____________________________
Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota

📦 Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000

*_Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah_*
🌎www.cintasedekah.org
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Adab Dan Hukum Di Sosial Media (Bagian 01)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Muharam 1438 H / 24 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Adab Dan Hukum Di Sosial Media (Bagian 01)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-NZ-Sosmed-01
-----------------------------------

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Bapak-bapak, ibu-ibu, rekan-rekan, ikhwān dan akhwāt yang saya muliakan.

Marilah kita awali dengan bersyukur kepada Allāh Jala wa 'Alā, atas segala nikmat dan karunia yang Allāh berikan dan Allāh limpahkan kepada kita.

Nikmat yang tidak mungkin kita bisa hitung. Nikmat yang senantiasa menyapa setiap derap langkah kita. Dan Allāh meminta kita untuk bersyukur kepada-Nya.

Dan nikmat yang harus kita syukuri secara khusus adalah:

⑴ Nikmat Imān
⑵ Nikmat Islām

⇛ Dua nikmat yang merupakan kunci kebahagiaan di dunia kita dan di ākhirat kita.

Selanjutnya, marilah kita haturkan shalawat kita dan salam kita kepada qudwah kita, Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam beserta para keluarga beliau, para shahābat-shahābat beliau dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.

Kita akan berbicara tentang sebuah fenomena yang sangat booming ditengah-tengah kita. Fenomena yang tidak memandang segmen dan batas usia. Tua muda, miskin kaya, anak muda, bapak-bapak, ibu rumah tangga, menggandrungi fenomena ini.

Kita akan berbicara tentang:

*Adab dan Hukum yang Berkaitan dengan Sosial Media*.

Dalam kamus bahasa Indonesia:

⇛ Media itu berarti alat atau sarana komunikasi, perantara, penghubung.
⇛Sosial artinya berkenaan dengan masyarakat.

Oleh karena itu dari sisi bahasa di atas, medsos (media sosial) bermakna: *sarana berkomunikasi dan berbagi*

Sehingga hampir semua  media (medsos-medsos) tersebut memiliki istilah sharing yang mereka tawarkan, karena memang itulah makna dasar dari dunia yang akan kita bahas sebentar lagi.

⇛ Istilah lain dari media sosial adalah jejaring sosial, (yaitu) jaringan atau jalinan hubungan secara online di internet.

Jadi yang kita gunakan adalah media yang berbasis internet.

Rasanya kita kurang tertarik untuk mendengarkan tapi penting untuk kita menududukkan masalah.

Kenapa demikian?

Karena kalau kita baca definisi di atas maka fenomena sosmed ini, semakin membuat kita beriman kepada Allāh dan Rasūl-Nya.

⇛Fenomena sosmed seharusnya membuat seorang mu'min:

√ Semakin rajin ke masjid.
√ Semakin semangat mengikuti sunnah Rasūl shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Semakin _sami'na wa atha'na_.
√ Semakin tidak membantah apabila dikasih perintah atau larangan dari Allāh dan Rasūl-Nya.

√ Semakin tidak suka mendebat firman-firman Allāh dan hadīts-hadīts Nabi ahallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kenapa demikian?

Karena 15 (lima belas) abad yang lalu dalam hadīts riwayat Imām Ahmad, Nabi menjelaskan bahwa salah satu tanda-tanda hari kiamat, fenomena yang menunjukkan kiamat semakin dekat, beliau menyatakan:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ وَشَهَادَةَ الزُّورِ وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ وَظُهُورَ الْقَلَمِ

_“Sesungguhnya pengkhususan salam hanya untuk orang-orang tertentu saja, maraknya perdagangan, (banyaknya) pemutusan tali silaturahmi, (banyaknya) persaksian palsu, (banyaknya) penyembunyian persaksian yang benar dan bermunculannya pena (tersebarnya karya tulis) akan terjadi menjelang terjadinya hari kiamat.”_

(HR Imam Ahmad)

Kalimat: ظهور القلم , secara bahasa kita terjemahkan  "tersebarnya pena" (tampilnya pena).

Ulamā menjelaskan bahwa media komunikasi dan tulisan itu tersebar dengan masif sebelum hari kiamat datang. Dan salah satunya medsos yang sedang kita bahas dan sedang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Lima belas abad yang lalu, Nabi mengatakan bahwa fenomena medsos ini pasti akan terjadi, tapi dengan bahasa Nabi, dengan bahasa klasik.

Lima belas abad yang lalu, Nabi tidak mengatakan:

"Ada sosmed lho, pokoknya nanti antum-antum pakai WhatsApp."

Tidak!  Atau, "Punya account di Facebook," tidak!

Tapi Nabi menggunakan bahasa klasik dan substansinya sama: ظهور القل.

Artinya pena-pena itu akan tampil, akan tersebar. Artinya tulisan-tulisan, artikel-artikel, comment-comment itu cepat banget tersebarnya di tengah-tengah dunia ini.

Tulisan-tulisan tersebar tanpa batas sekarang secara masif. Dan Nabi mengatakan 15 (lima belas) abad yang lalu. Pena dan tulisan itu akan tersebar, tampil dan menguasai dunia.

Lima belas abad yang lalu dan yang berbicara _*ummyy*_, tidak bisa baca dan tidak bisa tulis, shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Makanya, tadi saya katakan, orang yang mengerti hadīts di atas dan fenomena yang tersebar pada hari ini, dia harus semakin beriman kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⇛ Kalau Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tepat dalam menjelaskan fenomena sosmed ini maka Nabi pasti tepat juga ketika berbicara tentang adzab kubur.

⇛ Kalau ucapan Nabi terbukti ketika berbicara tentang pena dan tulisan akan berkembang dan akan tersebar sebelum terjadinya hari kiamat maka:

√ Ketika beliau berbicara tentang fitnah kubur maka itu akan terjadi.
√ Ketika Nabi berbicara tentang pertanyaan dalam kubur maka itu pasti akan terjadi.
√ Ketika Nabi katakan bahwa kita akan dibangkitkan dalam kondisi telanjang bulat maka itu akan terjadi.

√ Ketika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan bahwa kita akan berhadapan dengan Allāh tanpa penerjemah, tanpa tim legal (pengacara) maka itu pasti akan terjadi.

√ Ketika Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari sisi Allāh sampai dia ditanya tentang empat perkara maka pasti itu akan terjadi.

⇛ Imām kita kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam harus bertambah karena sosok ini tidak pernah bohong.

Ketika beliau mengatakan neraka, pasti ada neraka itu.

Sebagaimana beliau menjelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat yang tidak pernah ada sama sekali di kehidupan beliau, dan sekarang kita buktikan sendiri.

صدق رسول الله صلى الله عليه وسلم
____________________________
Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota

📦 Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000

*_Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah_*
🌎www.cintasedekah.org
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Thursday, October 20, 2016

Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 2)

🌎 BimbinganIslam.com
Kamis, 19 Muharram 1438 H / 20 Oktober 2016 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
🔊 Halaqah 54 | Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 2)
⬇ Download Audio: https://goo.gl/ZECqpe
➖➖➖➖➖➖➖

BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR (BAGIAN 2)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-54 dari Silsilah 'Ilmiyah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang "Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 2)".

Di antara kejadian di Padang Mashyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Malaikat dan Nabi 'Īsā 'alayhissalām.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā ayat 40-42 bahwasanya di Padang Mahsyar, Allāh akan bertanya kepada para Malaikat yang disembah oleh sebagian manusia sebagai penghinaan kepada orang-orang musyrikin yang dahulu menyembah mereka:

“Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?”.

Para malaikat menjawab:

“Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami bukan mereka. Akan tetapi sebenarnya mereka dahulu telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin tersebut.”

⇒ Maksudnya bahwasanya orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allāh baik orang yang shalih, benda mati dan yang lain-lain maka pada hakekatnya mereka menyembah jin karena yang menyuruh mereka untuk menyekutukan Allāh adalah jin.

Apabila mereka menaati berarti mereka telah menyembah jin tersebut.

Para malaikat pun tidak berkuasa untuk memberikan manfaat dan tidak pula mudharat kepada orang-orang yang telah menyembah mereka.
Para penyembah malaikat itu pun akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di dalam Surat Al Māidah ayat 116-117 Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Nabi 'Īsā 'alayhissalām, sebagai penghinaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla terhadap orang-orang Nashrani, yang menjadikan beliau dan ibu beliau sebagai Tuhan.

“Wahai 'Īsā putra Maryam, apakah engkau dahulu pernah mengatakan kepada manusia:

'Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allāh?'

'Īsā menjawab:

“Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya.

Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya.

Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghāib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, yaitu:

'Sembahlah Allāh Rabbku dan Rabb kalian.'

Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku hidup.

Maka setelah Engkau wafatkan atau angkat aku, Engkau lah yang mengawasi mereka.

Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

Demikianlah keadaan para malaikat dan Nabi 'Īsā 'alayhissalām.

✓Mereka adalah makhluk yang taat beribadah kepada Allāh.
✓Senang apabila manusia menyembah hanya kepada Allāh.
✓Dan mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah diri mereka.

Demikian pula orang-orang yang shalih dan wali-wali Allāh, manusialah yang terlalu berlebih-lebihan terhadap mereka;

• Membuat patung mereka.
• Memajang gambar mereka.
• Membangun dan menghias kuburan mereka.
• Meyakini bahwasanya mereka mengetahui yang ghāib.
• Berdo'a kepada mereka.
• Bepergian jauh untuk berziarah ke makam mereka.
• Beri’tikaf di kuburan mereka.
• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.
• Membangun masjid di atas kuburan mereka atau memasukkan kuburan mereka di dalam masjid.
• Bertawassul dengan do'a mereka setelah mereka meninggal dunia atau menganggap orang-orang shalih tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Ini semua termasuk berlebihan.

Jangan sampai keadaan seseorang seperti keadaan:

⑴ Kaum Nabi Nūh 'alayhissalām yang berlebihan terhadap 5 orang shalih yang disebutkan dalam surat Nūh ayat yang ke-23.

Atau keadaan,

⑵ Sebagian orang yang mengaku mencintai 'Ali bin Abī Thālib, Fāthimah, Hasan, Husain dan sebagian keturunan Beliau radhiyallāhu 'anhum kemudian berlebih-lebihan terhadap mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

✒Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
_______________

Wednesday, October 19, 2016

Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 1)

🌎 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Muharram 1438 H / 10 Oktober 2016 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
🔊 Halaqah 53 | Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 1)
⬇ Download Audio: https://goo.gl/B0f2zG
➖➖➖➖➖➖➖

BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR (BAGIAN 1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah 'Ilmiyah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang "Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 1)".

Di antara kejadian di Padang Mahsyar adalah percekcokan antara para pembesar orang-orang kafir dan para pengikutnya.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā' ayat 31-33 bahwasanya orang-orang kafir akan dihadapkan kepada Allāh.

Berkatalah orang-orang yang dianggap lemah kepada pembesar-pembesar mereka:

"Kalau bukan karena kalian tentulah kami dahulu menjadi orang-orang yang beriman."

Pembesar-pembesar tersebut membantah dan mengatakan:

"Apakah kami yang telah menghalangi kalian dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepada kalian? Tidak! Sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa."

⇒ Maksudnya kalian sendirilah yang menginginkan kesesatan dan kami hanya mengajak.

Orang-orang yang dianggap lemah balik membantah dan mengatakan:

"Tidak! Sebenarnya tipu daya kalian malam dan siang itulah yang menghalangi kami, ketika kalian menyuruh kami untuk kafir kepada Allāh dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya."
(QS Saba: 31-32)

Akhirnya semuanya menyesal tatkala melihat adzab.

Demikianlah keadaan para pembesar dan tokoh masyarakat yang mengajak kepada kesyirikan dan menghalangi manusia dari tauhid.

Mereka berlepas diri dari para pengikut mereka dan tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Para pengikut akan celaka sebagaimana para tokoh tersebut dan para pembesar juga celaka.

Oleh karena itu seorang Muslim hendaknya menyelamatkan dirinya dari neraka.

Jadilah tokoh masyarakat yang mengajak kepada tauhid.

Dan apabila dia orang yang lemah maka janganlah dia mengikuti kemauan para pembesar maupun orang banyak, apabila dia menghalangi manusia dari tauhid dan mengajak kepada kesyirikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan hidayah kepada kita dan juga mereka,

Menghilangkan rasa cinta dunia yang berlebihan dalam diri kita,
Dan menghilangkan kesombongan dari dalam kita, 
Dan menjadikan rasa takut kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada orang-orang musyrikin tentang sesembahan selain Allāh yang mereka sembah di dunia, dimanakah mereka pada hari tersebut.

Dan Allāh akan bertanya kepada mereka tentang bagaimana sikap mereka terhadap ajakan para Rasul 'Alaihissalam. 

Di dalam Surat Al-Qashash ayat 62-66, Allāh akan memanggil orang-orang musyrikin dan menghina mereka dengan bertanya:

"Di manakah sekutu-sekutuKu yang dulu kalian sangka mereka adalah sekutu-sekutuKu?"

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan berkata kepada orang-orang musyrikin:

"Berdoalah kalian kepada sekutu-sekutu kalian!"

Maka merekapun berdoa kepada sesembahan-sesembahan mereka di dunia, meminta pertolongan kepada mereka dalam keadaan genting tersebut sebagaimana mereka dahulu meminta di dunia.

Maka sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa berbuat apapun dan tidak menjawab seruan mereka.

Barulah mereka mengetahui bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Allāh juga akan bertanya kepada mereka:

"Apakah jawaban kalian terhadap ajakan para Rasul?
Yaitu apakah kalian membenarkan mereka dan mengikuti ajakan mereka untuk bertauhid?"

Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin sesembahan-sesembahan mereka di dunia;

• Tidak bisa mengabulkan do'a mereka ketika sangat dibutuhkan.
• Tidak bisa menolong mereka di hadapan Allāh, bahkan mereka berlepas diri.

Allāh berfirman:

وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُ ۥۤ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآٮِٕهِمۡ غَـٰفِلُونَ (٥)وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءً۬ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِہِمۡ كَـٰفِرِينَ (٦) وَ 

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang berdo'a kepada selain Allāh yang tidak bisa mengabulkan sampai hari kiamat?

Dan mereka lalai dari doa orang yang berdo'a kepada mereka.

Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka akan menjadi musuh bagi orang-orang yang menyembah mereka.

Dan mereka akan mengingkari ibadah yang dilakukan orang-orang musyrikin terhadap mereka."
(QS Al Ahqāf: 5-6)

Adapun orang yang bertauhid, maka Allāh akan menolong mereka di dunia maupun di akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

✒Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
_______________

Telaga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam

🌎BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Muharram 1438 H / 18 Oktober 2016 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
🔊 Halaqah 52 | Telaga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam
⬇ Download Audio: https://goo.gl/aUcgJD
➖➖➖➖➖➖➖

TELAGA RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah  Beriman kepada hari akhir adalah tentang " Telaga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam".

Di antara beriman kepada Hari Akhir adalah beriman tentang adanya telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada Hari Kiamat.

Hadits-hadits yang datang dalam masalah ini mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga. Sesungguhnya mereka akan saling berbangga siapa yang diantara mereka yang telaganya paling banyak didatangi. Dan aku berharap akulah yang telaganya akan paling banyak didatangi.”
( Hadits shahih riwayat Tirmidzi )

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu dan baunya lebih wangi daripada minyak kasturi dan qizannya ( yaitu sejenis teko ) sebanyak bintang di langit. Barangsiapa yang meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya.”
( HR Bukhāri dan Muslim )

Sebagian ulama mengatakan bahwasanya seandainya dia masuk ke dalam neraka setelah itu karena dosa yang dia lakukan maka dia tidak akan diadzab dengan rasa haus.

Umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan mendatangi telaga beliau dan meminum darinya.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Dan aku akan menolak manusia dari telagaku sebagaimana seseorang menolak onta orang lain dari telaganya."

Maka para sahabat bertanya kepada beliau:

"Wahai Rasūlullāh, apakah engkau mengenal kami pada hari tersebut ?"

Beliau menjawab:

"Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki umat-umat yang lain. Kalian akan mendatangi telagaku dalam keadaan putih wajah, tangan dan kaki kalian dari bekas berwudhu."
( HR Muslim )

Orang yang beriman ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup kemudian dia murtad sepeninggal beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan dijauhkan dari telaga beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di dalam sebuah hadits, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Aku akan mendahului kalian di atas telaga dan akan dinampakkan beberapa orang di antara kalian kemudian tiba-tiba dijauhkan dariku.

Aku pun bertanya:

'Wahai Robbku, bukankah mereka adalah para sahabatku?'

Maka dikatakan kepada beliau, 'Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah dirimu'."

( HR Bukhāri dan Muslim dari Abdullāh Bin Mas’ud radhiyallāhu 'anhu)

Di dalam hadits yang lain dikatakan kepada beliau:

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka rubah setelahmu.”

( HR Bukhāri dan Muslim )

Sebagian ulama mengatakan bahwasanya membuat bid’ah di dalam agama termasuk merubah yang dimaksud dalam hadits ini.

Dikhawatirkan dia tidak bisa meminum dari telaga Nabi shallAllãhu 'alaihi wasallam.

Namun bukan berarti apabila dia masuk ke dalam neraka, dia kekal di dalamnya. Karena yang kekal di dalam neraka hanyalah orang-orang kafir.

Dua hadits terakhir menunjukkan bahwasanya setelah meninggal dunia, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan umatnya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa meminum dari telaga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari di mana kita sangat membutuhkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

✒Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
_______________

Monday, October 17, 2016

Mīzān Dan Penimbangan Amal (Bagian 2)

🌎 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Muharram 1438 H / 17 Oktober 2016 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
🔊 Halaqah 51 | Mīzān Dan Penimbangan Amal (Bagian 2)
⬇ Download Audio: https://goo.gl/S1VgVz
➖➖➖➖➖➖➖

MĪZĀN (TIMBANGAN) DAN PENIMBANGAN AMAL (BAGIAN 2)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Amalan yang paling berat di dalam timbangan pada hari kiamat adalah dua kalimat syahādah.

Dari 'Abdullāh Ibnu 'Amr Ibnul 'Āsh Radhiyallāhu 'anhumā, beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allāh akan memilih seseorang dari umatku di hadapan makhluk-makhluk yang lain pada hari kiamat, maka dibukalah di hadapannya 99 sijjīl."

⇒ Makna "sijjīl" adalah kitab besar dan maksud Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah kitab yang berisi dosa-dosa hamba tersebut.

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

"Setiap sijjīl besarnya sejauh mata memandang."

Kemudian Allāh bertanya kepada hamba tersebut:

"Apakah ada di antara isi kitab tersebut yang engkau ingkari? Apakah para malaikat penulis telah menzhalimimu?"

Hamba tersebut menjawab:
"Tidak, wahai Rabb-ku."

Allāh bertanya:
"Apakah kamu memiliki alasan?"

Dia kembali menjawab:
"Tidak, wahai Rabb-ku."

Maka Allāh pun berkata:
"Sesungguhnya engkau memiliki hasanah di sisi Kami dan sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi pada hari ini."

Maka dikeluarkanlah sebuah kartu yang bertuliskan "asyhaduallā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasūluh".

Allāh pun berkata:
"Lihatlah timbanganmu."

Hamba tersebut mengatakan:
"Wahai Rabb-ku, apa arti sebuah kartu ini dibandingkan dengan sijjīl yang begitu banyak?"

Maka Allāh berkata:
"Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi."

Diletakkanlah sijjīl yang banyak tersebut di satu piringan timbangan dan diletakkan kartu di satu piringan timbangan yang lain.

Maka ringanlah sijjīl yang banyak dan beratlah kartu tersebut.

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Tidak ada sesuatu yang mengalahkan beratnya nama Allāh".
(Hadits Shahīh Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah)

◆ Di antara amalan yang sangat memberatkan timbangan pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan dari pada akhlak yang baik."

(Hadits Shahih Riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi)

Di antara akhlak yang baik adalah:

⑴ Menyambung orang yang memutus kita.
⑵ Memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepada kita.
⑶ Memaafkan orang yang menzhalimi kita.

◆ Di antara amalan yang berat adalah ucapan "Subhānallāhi wa bihamdih, subhānallāhil 'azhīm".

⇒ Sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

◆ Di antara amalan yang memenuhi timbangan adalah ucapan "Alhamdulillāh".

⇒ Sebagaimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Oleh karena itu, hendaknya seorang Muslim senantiasa:

⑴ Memperbaiki dua kalimat syahadat yang dia ucapkan.
⑵ Berusaha untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya.
⑶ Istiqamah di atas keduanya sampai meninggal dunia.

Di samping itu hendaknya dia,
⑷ Memperbaiki ibadahnya kepada Allāh dan akhlaknya kepada manusia.

⇒ Melakukan itu semua karena Allāh dan untuk memperberat timbangannya di hari kiamat.

✓Orang yang berbahagia adalah orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

✓Dan orang yang celaka adalah orang yang lebih ringan timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

⇒ Sebagaimana disebutkan oleh Allāh di dalam Surat Al Qāri'ah.

◆ Orang kafir tidak memiliki sesuatu yang memberatkan timbangan mereka karena amalan mereka batal dengan kesyirikan dan kekufuran.

(Lihat Surat Al Kahfi: 103-106)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

"Sesungguhnya akan datang seseorang yang besar lagi gemuk pada hari kiamat akan tetapi beratnya di sisi Allāh tidak lebih dari berat satu sayap dari seekor nyamuk."
(HR Bukhāri dan Muslim)

⇒ Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwasanya ada tiga perkara yang akan ditimbang pada hari kiamat.

⑴ Amalan
⑵ Orang yang mengamalkan
⑶ Kitab catatan amalan

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

✒Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
_______________

Friday, October 14, 2016

Ghibah (bagian 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 14 | Ghibah (bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H14-3
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
GHIBAH (BAGIAN 3)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat, kita masih pada hadits yang ke 14, tentang ghibah dan kali ini kita akan bahas kondisi-kondisi dimana diperbolehkan ghibah.

*(4) Orang Yang Menampakkan Kefasikan*

Orang ini menampakkan kefasikan, tidak malu dia menampakkan kebid'ahannya. Maka tidak mengapa ghibah kepada dia karena dia telah menampakkan keburukannya.

Dighibahi atau tidak dighibahi dia sudah sering menampakkan keburukannya.

Oleh karenanya, tatkala ada seorang meminta izin untuk bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ ". أَوْ " بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ "

_"Izinkan dia untuk bertemu denganku sesungguhnya dia adalah seorang yang paling buruk di kabilahnya."_

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut keburukan dia dengan mengatakan, "Orang yang paling buruk di kabilahnya."

Maka orang itupun berbicara dengan Nabi. Tatkala dihadapan dia Nabi tersenyum, nabi ramah, karena untuk menghindari keburukan orang ini.

Setelah dia pergi maka Rasulullallah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan kepada 'Aisyah:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ ـ أَوْ وَدَعَهُ ـ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

_"Sesungguhnya orang yang paling buruk pada hari kiamat kelak di sisi Allāh adalah yang ditinggalkan manusia karena keburukan lisannya."_

(HR Bukhari nomor 5666 versi Fathul Bari nomor 6131)

Rupanya orang ini lisannya buruk, namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersenyum-senyum kepada orang yang bersalah ini. Berlemah lembut dalam rangka untuk menghindari kesalahan, karena bisa jadi orang ini akan menjelek-jelekkan Nabi di kemudian hari misalnya.

Disini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengghibah orang ini, kenapa?

Karena orang ini menampakkan keburukannya.

Oleh karenanya kalau ada orang, misalnya, menampakkan kefasikan di televisi, menampilkan auratnya atau melakukan kefasikan-kefasikan yang lain, maka orang tersebut tidak mengapa di ghibahi atas apa yang mereka lakukan tersebut.

Karena mereka sendiri menampakkan keburukan mereka secara terang-terangan. Bahkan diantara mereka bangga dengan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Oleh karenanya Al Khallal meriwayatkan, beliau berkata dari harb, beliau mengabarkan kepadaku, aku mendengar Imam Ahmad berkata:

إذا كان الرجل معلناً بفسقه فليس له غيبة

_"Kalau seseorang terang-terangan menampakkan kefasikannya maka tidak ada ghibah baginya."_

Demikian juga berkata Anas dan Al Hasan:

من ألقى جلباب الحياء فلا غيبة له

_"Barangsiapa yang telah melepaskan tirai rasa malunya (dia sudah buang rasa malunya) maka tidak ada ghibah baginya (karena dia sudah terang-terangan menampakkan kefasikannya/kemaksiatannya)."_

*(5) Untuk Menjelaskan Siapa Orangnya*

Kemudian yang kelima, diantara ghibah yang diperbolehkan adalah untuk menjelaskan siapa orangnya.

Seperti perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumā, beliau berkata:

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُؤَذِّنَانِ بِلاَلٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ الأَعْمَى

_"Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam punya dua tukang adzan, yang pertama adalah Bilal yang kedua adalah Ibnu Ummi Maktum yang buta."_

(HR Muslim 573 versi Syarh Muslim nomor 380)

Ini bukan dalam rangka untuk mencela Ibnu Ummi Maktum, tapi untuk menjelaskan muadzdzin yang buta tersebut.

Jadi tidak mengapa seorang menyebutkan tapi bukan untuk menjelekkan yaitu untuk membedakan.

Misalnya ada orang mencari seorang, datang ke kampung kita, "Saya pingin bertemu dengan Mas Joko." Kita bilang, "Joko yang mana? Joko disini ada tiga, ada yang tinggi, ada yang sedeng ada yang pendek."

Kita sebutkan ada yang pendek, tentunya Joko yang pendek tidak mau disebut yang pendek tapi dalam rangka untuk membedakan maka ini bukan mencela, ini tidak mengapa.

*(6) Meminta Tolong Untuk Merubah Kemungkaran*

Kemudian yang keenam, adalah minta tolong dalam rangka merubah kemungkaran atau untuk mengembalikan pelaku maksiat maka ini tidak jadi masalah.

Contohnya kita datang melapor kepada hakim, kita melihat ada sekelompok pemuda yang minum khamr. Tidak mengapa kita laporkan karena untuk ditangkap, untuk dihilangkan atau untuk dikurangi maksiat yang mereka lakukan.

Ini juga ghibah yang diperbolehkan.

Demikianlah ikhwan dan akhwat semoga kita bisa terhindar dari ghibah yang diharamkan dan semoga kita bisa menjaga lisan kita.

Jadi, di sini kita tahu, pertanyaan yang sering diajukan yaitu jika kita bermusyawarah kemudian kita dalam musyawarah tersebut menceritakan kejelekan orang lain maka ini bukan ghibah.

Kalau musyawarah kita dalam rangka untuk mamberi nasehat kepada dia, untuk memikirkan apa yang terbaik bagi dia, itu berarti ghibah yang ada maslahatnya. Ini tidak jadi masalah.

Yang tidak boleh, kalau kita nyebut-nyebut kesalahannya, hanya sekedar untuk menjatuhkannya.

Oleh karenanya, terkadang diantara keluarga kita ada yang mengghibah ibu kita sendiri dalam rangka untuk mencari yang terbaik untuk ibu. Atau diantara keluarga kita mengghibah adik kita sendiri, tentunya kita sayang kepada adik kita, bukan untuk menjatuhkannya, maka ini tidak jadi masalah.

Atau kita berbicara dengan teman untuk mengghibah suami kita atau istri kita bukan dalam rangka untuk menjatuhkan suami kita atau istri kita, tapi dalam rangka untuk mencari maslahat yang terbaik.

Tentunya kalau kita sedang bermusyawarah carilah orang yang amanah yang bukan kemudian, istilah orang, mulutnya ember. Begitu mendengar apa yang kita sampaikan kemudian disebarkan dimana-mana.

Demikianlah.

Wallāhu Ta'ala A'lam bish Shawaab.
____________________________
Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota

📦 Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000

*_Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah_*
🌎www.cintasedekah.org
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------